| Penulis |
Irwanto, S.Ag., M.Pd |
| Editor | Muhammad Pria Tri Jaya |
| Kategori |
Akhlaq & Adab |
| Halaman | 298 |
| Kertas | Book Paper |
| Jenis Cover | Soft cover |
| ISBN | 978-623-7754-44-2 |
| Berat | 400 gram |
| Dimensi | 14 X 20 cM |
Rp50.000
Kehadiran buku Transformasi Spiritualitas Islam: Visi Iman Transformatif dan Emansipasi Kemanusiaan Rahmatan lil ’Alamin sebagai Identitas Karakter Akhlak Mulia ini diharapkan menjadi rekonstruksi pemikiran pendidikan karakter dalam bentuk praksis profetik di tengah krisis akhlakul karimah guna mencari solusi berbagai problematika sosial-keagamaan, sosial-kemasyarakatan dan sosial-kemanusiaan.
Secara kasat mata, dogma, ritus, tradisi dari doktrin Islam terlihat hanya simbolik saja. Namun pada hakikatnya, dalam setiap dogma, ritus, dan tradisi yang bersumber dari doktrin Islam, baik berupa ibadah formal yang disyariatkan dari doktrin ajaran Islam (Al-Qur’an dan As-Sunah) maupun ibadah nonformal yang ditradisikan para sahabat, tabi’in, dan para ulama sebagai penerus risalah Rasulullah Saw. Semuanya sarat dengan ‘pesan tersenbunyi’ (cryptical messege) yang hendak disampaikan dari firman-Nya maupun Sabda Rasulullah Saw., serta metafor tradisi para sahabat, tabi’in, dan para ulama yang mesti ditangkap secara dialektika-spiritualistik.
Simbolisme religius yang bermodal tampilan lahiriah belum tentu berbanding lurus dengan perilaku hidup yang sesungguhnya. Dogma, ritus, tradisi dari doktrin Islam sesungguhnya memiliki esensi kesadaran nalar ketuhanan dan nalar kemanusiaan yang mengantarkan kesadaran rohaniah yang bersifat transedental (spiritualitas Islam) yang mampu mengubah sang hamba untuk menapaki jalan Kebenaran-Nya dengan visi iman transformatif dan emansipasi kemanusiaan rahmatan lil ’alamin. Itulah yang menjadi identitas karakter akhlak mulia.
Sang hamba yang memiliki spiritualitas Islam, baik dari dogma, ritus, tradisi dari doktrin Islam dengan kesadaran imani, thabi’i, dan ilmi, maka akan memiliki kekuatan untuk mentransedensi lingkungan sekitarnya. Ia tidak terbawa arus lingkungan, tetapi justru mampu mentransformasi spiritualitas Islam kapan pun dan di mana pun ia berada.
Transformasi spiritualitas Islam yang mengedepankan nalar ketuhanan (rohaniah) dan nalar kemanusiaan (etika kemanusiaan) menjadikan sang hamba sebagai “mandataris” Tuhan di bumi dengan visi iman transformatif dan emansipasi kemanusiaan rahmatan lil ’alamin. Sehingga ia menjadi manusia berjiwa bukan manusia mekanik seperti robot-robot yang digerakkan dengan sistem remot-kontrol tanpa ekspresi, empati, dan sensitivitas kemanusiaan, yang tidak memiliki inisiatif, kreativitas, reposisi, komposisi, dan elaborasi diri.
Modus hidup manusia di dunia dari Menang-Senang-Aman-Tenang merupakan sebuah proses, usaha, dan upaya sang hamba Allah untuk lebih dekat kepada-Nya dalam wilayah pribadi (privasi) dalam kerangka dogma, ritus, tradisi dari doktrin Islam dalam konteks tauhid-ritual. Namun, nalar kemanusiaan (etika kemanusiaan) merupakan wilayah sosial-kemanusiaan (publik) dalam konteks tauhid-sosial, sebagai wujud keberpihakan kepada kaum dhuafa, rakyat jelata, kaum pinggiran, kaum termarginal, marhen, dan mustadha’afin lainnya.
Kemampuan menangkap “Pesan Langit” dengan visi iman transformatif dan emansipasi kemanusiaan rahmatan lil’alamin, itulah yang menyelamatkan peradaban dan kemanusiaan, serta agama masa depan. Spirit transformasi spiritualitas Islam memadukan psikologi Islami dan nilai karakter aktual Islam yang menjadi identitas karakter akhlak mulia.
Maaf, belum ada data tentang penulis Irwanto, S.Ag., M.Pd